Kemenkeu Sumut Bersama Akademisi Bahas Dampak Perubahan Iklim Sebagai Solusi Perekonomian

  • Bagikan

&NewLine;<p class&equals;"wp-block-paragraph">Blinkiss&period;id&comma; Medan<&sol;p>&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p class&equals;"wp-block-paragraph">Kantor Wilayah &lpar;Kanwil&rpar; Direktorat Jenderal &lpar;Ditjen&rpar; Perbendaharaan Provinsi Sumatera Utara &lpar;Provsu&rpar; perwakilan Kementerian Keuangan Sumatera Utara &lpar;Kemenkeu Sumut&rpar; bersama akademisi melaksanakan seminar yang membahas &OpenCurlyDoubleQuote;Dampak Perubahan Iklim Terhadap Ekonomi dan Pertanian Regional Sumatera Utara”&period;<&sol;p>&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p class&equals;"wp-block-paragraph">Seminar yang terlaksana di Aula Sinabung Kanwil DJPb Sumut&comma; Kamis &lpar;1&sol;8&rpar; kemarin&comma; diisi narasumber dari Local Expert Kemenkeu Sumut&comma; Akademisi USU&comma; serta Kepala UPTD Perlindungan Tanaman Pangan Hortikultura dan Pengawasan Mutu Keamanan Pangan Sumut&period;<&sol;p>&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p class&equals;"wp-block-paragraph">Narasumber hadir memberikan pandangan mereka mengenai tantangan dihadapi sebagai langkah strategis yang perlu diambil untuk mitigasi juga adaptasi perubahan iklim&period;<&sol;p>&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p class&equals;"wp-block-paragraph">Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Sumut&comma; Syaiful menyampaikan Perubahan iklim memberikan ancaman utama di berbagai ekonomi maupun pertanian khususnya di Sumut karena pertanian merupakan penopang utama bagi perekonomian&period;<&sol;p>&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p class&equals;"wp-block-paragraph">Pada sektor pertanian perubahan iklim dapat mempengaruhi pola tanam serta masa panen raya&comma; peningkatan frekuensi yang intensitas bencana&comma; perubahan kesuburan tanah juga ketersediaan air&comma; atau munculnya hama serta penyakit tanaman baru&period;<&sol;p>&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p class&equals;"wp-block-paragraph">Dampak tersebut&comma; jelas Syaiful&comma; mempengaruhi produktifitas pertanian dan ketahanan pangan&comma; serta kesejahteraan petani yang menurun&comma; Selasa &lpar;6&sol;8&sol;2024&rpar;<&sol;p>&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p class&equals;"wp-block-paragraph">&OpenCurlyDoubleQuote;Tentunya kegagalan produktifitas pertanian akan meningkatkan harga pangan karena ketersediaan pasokan juga mengalami penurunan yang akan menyebabkan terjadinya inflasi&comma;” ungkapnya&period;<&sol;p>&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p class&equals;"wp-block-paragraph">Selain itu&comma; sambung Syaiful&comma; perubahan pola perdagangan baik regional maupun global karena pergeseran perubahan zona produksi pangan akan mempengaruhi keunggulan komparatif&comma; Peningkatan biaya investasi khususnya infrastruktur atau penelitian&comma; dan potensi migrasi penduduk berupa urbanisasi disebabkan kekurangan lahan pertanian yang produktif&period;<&sol;p>&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p class&equals;"wp-block-paragraph">Dalam penutupnya Syaiful mengajak untuk menjadikan seminar ini sebagai langkah awal untuk membangun masa depan ekonomi yang lebih tangguh berkelanjutan bagi generasi medatang&period;<&sol;p>&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p class&equals;"wp-block-paragraph">Herfita Rizki Hasanah Gurning&comma; SE&comma; M&period;Ec&period;Dev&comma; selaku Dosen Tetap Ekonomi Pembangunan Universitas Sumatera Utara &lpar;USU&rpar;&comma; memaparkan bahwa perubahan iklim diartikan sebagai perubahan kondisi fisik atmosfer bumi yang meliputi fluktuasi suhu dan distribusi curah hujan&period; Sejak abad ke-19&comma; aktivitas manusia seperti industri&comma; energi&comma; transportasi&comma; pertanian&comma; dan penggunaan lahan telah mempercepat perubahan ini&comma; menyebabkan dampak serius seperti kekeringan&comma; banjir&comma; atau penurunan keanekaragaman hayati&period;<&sol;p>&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p class&equals;"wp-block-paragraph">Menurutnya&comma; jejak ekologis per kapita di Indonesia mencapai 1&comma;7 hektar global &lpar;gha&rpar;&comma; melebihi biokapasitas per kapita sebesar 1&comma;2 gha&comma; menunjukkan konsumsi sumber daya yang tidak berkelanjutan&period; Analisis menunjukkan korelasi negatif antara suhu juga curah hujan dengan pertumbuhan ekonomi&comma; serta kecenderungan rendahnya produktivitas pertumbuhan ekonomi di daerah dengan risiko bencana tinggi&period;<&sol;p>&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p class&equals;"wp-block-paragraph">&OpenCurlyDoubleQuote;Adaptasi serta mitigasi perubahan iklim&comma; termasuk pendidikan lingkungan&comma; insentif ekonomi hijau&comma; pengembangan teknologi hijau&comma; diusulkan untuk mengatasi tantangan ini mendukung transformasi ekonomi berkelanjutan&comma;” sarannya&period;<&sol;p>&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p class&equals;"wp-block-paragraph">Marino&comma; SP&comma; MM&comma; Kepala UPTD Perlindungan Tanaman Pangan Hortikultura dan Pengawasan Mutu Keamanan Pangan Sumut&comma; menyoroti dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian&period; Data menunjukkan bahwa produktivitas padi menurun hingga 14&comma;4&percnt; untuk setiap kenaikan suhu 1°C&comma; akibat stres panas mengganggu proses fotosintesis dan pertumbuhan tanaman&period;<&sol;p>&NewLine;&NewLine;&NewLine;&NewLine;<p class&equals;"wp-block-paragraph">Selain itu&comma; perubahan pola curah hujan menyebabkan banjir&comma; mengurangi ketersediaan air untuk irigasi&period; Tantangan lainnya yang dihadapi sektor pertanian termasuk laju pertumbuhan penduduk&nbsp&semi; cepat&comma; alih fungsi lahan&comma; serangan hama dan penyakit&comma; infrastruktur pertanian tidak memadai&period; Untuk mengatasi tantangan ini&comma; pemerintah provinsi telah mengembangkan kebijakan meningkatkan infrastruktur irigasi&comma; mengembangkan varietas tanaman tahan iklim&comma; dan menyediakan dukungan finansial serta pelatihan bagi petani&period;<br><br>Dr&period; Wahyu Ario Pratamo&comma; M&period;Ec&comma; Local Expert Kementerian Keuangan Wilayah Sumut&comma;&nbsp&semi; bahwa perubahan iklim juga berdampak produktivitas tenaga kerja dan kesehatan masyarakat&period; Wilayah risiko bencana tinggi cenderung memiliki produktivitas lebih rendah dan angka harapan hidup yang lebih rendah&period; Penyakit seperti malaria&comma; diare&comma; TB paru&comma; pneumonia&comma; dan demam berdarah dengue &lpar;DBD&rpar; dapat meningkat akibat perubahan iklim&comma; menurunkan kualitas hidup dan produktivitas tenaga kerja&period;<br><br>&OpenCurlyDoubleQuote;Sumatera Utara memiliki potensi besar dalam sektor pertanian dengan luas lahan sawah mencapai 330&period;441&comma;8 hektar&period; Produksi beras tahun 2023 mencapai 3&period;986&period;465 ton&comma; menunjukkan surplus signifikan&period; Namun&comma; untuk memastikan ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani&comma; perlu ada perhatian khusus terhadap dampak perubahan iklim yang dapat mengancam stabilitas sektor ini&comma;” bilangnya&period;<br><br>Diungkapkannya bahwa pertumbuhan ekonomi Sumut diproyeksikan meningkat menjadi 5&comma;20 persen – 5&comma;40 persen pada tahun 2024 dan 5&comma;50 persen – 5&comma;60 persen pada tahun 2025&period; Untuk mendukung pertumbuhan ini&comma; peningkatan daya saing ekonomi melalui perbaikan institusi&comma; adopsi teknologi informasi&comma; stabilitas makro&comma; kesehatan&comma; serta pasar produk dan tenaga kerja menjadi sangat penting&period;<br><br>&OpenCurlyDoubleQuote;Kementerian Keuangan berkomitmen untuk terus mendukung kebijakan yang dapat mengurangi dampak perubahan iklim dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di Sumut&comma;” tutupnya&period; &lpar;JB Rumapea&rpar;<&sol;p>&NewLine;<div id&equals;"wpdevar&lowbar;comment&lowbar;2" style&equals;"width&colon;100&percnt;&semi;text-align&colon;left&semi;"> &NewLine;&Tab;&Tab;<span style&equals;"padding&colon; 10px&semi;font-size&colon;20px&semi;font-family&colon;Arial&comma;Helvetica Neue&comma;Helvetica&comma;sans-serif&semi;color&colon;&num;000000&semi;">Facebook Comments Box<&sol;span> &NewLine;&Tab;&Tab;<div class&equals;"fb-comments" data-href&equals;"https&colon;&sol;&sol;blinkiss&period;id&sol;kemenkeu-sumut-bersama-akademisi-bahas-dampak-perubahan-iklim-sebagai-solusi-perekonomian&sol;" data-order-by&equals;"social" data-numposts&equals;"70" data-width&equals;"100&percnt;" style&equals;"display&colon;block&semi;"><&sol;div><&sol;div><style>&num;wpdevar&lowbar;comment&lowbar;2 span&comma;&num;wpdevar&lowbar;comment&lowbar;2 iframe&lbrace;width&colon;100&percnt; &excl;important&semi;&rcub; &num;wpdevar&lowbar;comment&lowbar;2 iframe&lbrace;max-height&colon; 100&percnt; &excl;important&semi;&rcub;<&sol;style>

  • Bagikan
Exit mobile version