OJK dan ILO Luncurkan Enterprise Resource Planning, Tingkatkan Akses Pembiayaan Peternak Sapi
Blinkiss.id, JAKARTA
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga International Labour Organization (ILO) meningkatkan akses pembiayaan formal bagi peternak sapi perah melalui peluncuran Sistem Enterprise Resource Planning (ERP) serta program akses keuangan inklusif di Jawa Timur.
Program yang dirancang untuk mengatasi hambatan akses pembiayaan selama ini dihadapi peternak akibat keterbatasan data usaha, sekaligus mendorong digitalisasi dan penguatan ekosistem peternakan sapi perah yang lebih produktif dan berkelanjutan.
Kegiatan diselenggarakan di Koperasi Agro Niaga (KAN) Jabung, Kabupaten Malang, Jawa Timur yang merupakan bagian dari implementasi program PROMISE 2 IMPACT yaitu program kolaborasi antara ILO, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, dan OJK yang didukung oleh Pemerintah Swiss melalui State Secretariat for Economic Affairs (SECO), untuk memperluas akses keuangan, mendorong digitalisasi, memperkuat rantai nilai usaha, serta meningkatkan kualitas dan keberlanjutan usaha UMKM di Indonesia.
Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto (IAKD) OJK Adi Budiarso lewat sambutannya menegaskan bahwa program yang lahir dari kebutuhan untuk menjawab tantangan nyata selama ini dihadapi peternak dalam mengakses pembiayaan formal, Jumat (12/6/2026)
“Kami mendapatkan laporan dari peternak yang kerap menghadapi satu hambatan mengakses pembiayaan formal akibat asimetri informasi berupa keterbatasan data valid, profil usaha yang tidak jelas, kapasitas produksi simpang siur, juga kondisi keuangan peternak belum terdokumentasi dengan baik,” kata Adi.
Menyadari hal itu, OJK melalui Pusat Inovasi OJK Infinity bersama ILO menjalin kolaborasi strategis melalui program PROMISE 2 IMPACT.
Program yang bertujuan mendorong pengembangan UMKM untuk dapat berkontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi rakyat secara berkelanjutan.
Program digitalisasi ekosistem sapi perah ini dibangun di atas dua fondasi utama, yaitu penguatan ekosistem usaha yang berkelanjutan dan pembangunan infrastruktur digital andal.
Melalui sistem ERP, data produksi, keuangan, dan operasional koperasi dapat terdokumentasi secara lebih sistematis dan real time sehingga memberikan gambaran lebih akurat mengenai kapasitas produksi, kualitas usaha, dan kondisi keuangan peternak.
Dijelaskan Adi, bahwa integrasi ERP dengan layanan Pemeringkat Kredit Alternatif (PKA) dan Penyelenggara Agregasi Jasa Keuangan (PAJK) menjadi langkah penting menjembatani peternak dengan ekosistem jasa keuangan formal.
“Melalui data yang tersebut dihasilkan oleh sistem ERP ini, pemeringkat kredit alternatif untuk dapat membangun profil kredit peternak dengan lebih objektif, akurat, serta inklusif. Bersama Penyelenggara Agregasi Jasa Keuangan, sistem ini menjadi jembatan yang menghubungkan peternak rakyat dengan ekosistem jasa keuangan formal secara lebih menyeluruh dan sesuai kebutuhan,” jelas Adi.
Direktur ILO Indonesia dan Timor-Leste Simrin Singh menyampaikan bahwa transformasi digital yang memiliki peran penting memperkuat ketahanan usaha dan memperluas akses ekonomi bagi masyarakat.
“Digitalisasi dapat meningkatkan sebagai produktivitas, memperluas akses pembiayaan, memperkuat ketahanan usaha, juga menciptakan peluang kerja yang lebih baik. Kemitraan ini juga menunjukkan bagaimana inovasi, kebijakan publik, dan kolaborasi multipihak dapat bekerja bersama untuk memastikan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif,” jelas Simrin menambahkan.
Sementara itu, Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN H.E. Olivier Zehnder menegaskan untuk penguatan pelaku usaha lokal merupakan fondasi penting bagi pembangunan ekonomi berkelanjutan.
“Swiss percaya atas pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan harus dimulai dari penguatan pelaku usaha lokal. Ketika peternak memiliki akses terhadap informasi, teknologi, juga layanan keuangan yang lebih baik, mereka memiliki kapasitas yang lebih besar untuk berinvestasi, meningkatkan produktivitas, berkontribusi pada pembangunan ekonomi daerah. Kami bangga dapat mendukung kemitraan menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat,” kata Olivier.
Kesejahteraan Peternak
Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Adhy Karyono mewakili Gubernur Jawa Timur menyampaikan bahwa sektor sapi perah memiliki peran strategis mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus menggerakkan ekonomi daerah.
“Penguatan sektor sapi perah bukan hanya tentang meningkatkan produksi susu, tetapi juga tentang dapat meningkatkan kesejahteraan peternak, memperkuat koperasi, dan membangun ekonomi pedesaan lebih tangguh. Melalui digitalisasi dan perluasan akses keuangan, kita sedang membangun fondasi baru bagi pertumbuhan sektor peternakan yang lebih modern, produktif, serta berdaya saing,” paparnya.
Peluncuran ini menandai atas keberhasilan pengembangan sistem ERP yang telah terintegrasi dengan layanan pada Pemeringkat Kredit Alternatif (PKA) di tiga koperasi sapi perah prioritas di Jawa Timur, yaitu Koperasi Agro Niaga (KAN) Jabung, Koperasi Peternak Sapi Perah Setia Kawan (KPSP Setia Kawan), dan KPUD Tani Wilis, secara keseluruhan mencakup lebih dari 10.000 anggota koperasi.
Ikut hadir Bupati Malang H. Sanusi, Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Perlindungan Pekerja Migran Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Leontinus Alpha Edison, Plh. Kepala Kantor OJK Provinsi Jawa Timur Horas V.M. Tarihoran, Kepala Kantor OJK Malang Farid Faletehan, Kepala Kantor OJK Jember Aris Budiman, serta perwakilan kementerian/lembaga, pemerintah daerah, koperasi, dan industri jasa keuangan.
Sebagai tindak lanjut peluncuran program, OJK menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bersama para pemangku kepentingan guna mendukung perluasan implementasi program di wilayah Jawa Timur.
Keberhasilan implementasi di tiga koperasi tersebut diharapkan dapat menjadi model yang direplikasi pada berbagai sektor dan daerah lain di Indonesia. (JBR/66)

