BRT Mebidang Disiapkan dengan 30 Bus Listrik, Bobby Nasution Targetkan Pembayaran Terintegrasi

  • Bagikan

DELISERDANG, BLINKISS – Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution mendorong penguatan transportasi umum melalui layanan Bus Rapid Transit (BRT) Medan-Binjai-Deli Serdang (Mebidang). Sebanyak 30 bus listrik disiapkan untuk melayani dua koridor utama dengan target pengoperasian armada secara bertahap hingga Desember 2026.

Bobby meluncurkan layanan BRT Mebidang di Terminal Lubukpakam, Jalan Lintas Medan-Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, Rabu (19/8/2026).

Peluncuran tersebut menjadi langkah awal pengembangan transportasi massal yang diharapkan dapat meningkatkan konektivitas antardaerah sekaligus mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi.

Bobby menegaskan, pemerintah memiliki tanggung jawab menyediakan transportasi umum yang aman, nyaman, dan mudah diakses masyarakat.

“Pemerintah sebenarnya menyiapkan transportasi umum. Jangan digeser perannya,” ujar Bobby.

Ia meminta pengembangan BRT Mebidang tidak hanya berfokus pada penambahan armada, tetapi juga mencakup integrasi layanan dan sistem pembayaran.

Bobby menargetkan sistem pembayaran terintegrasi mulai terlihat pada 2027. Dengan sistem tersebut, penumpang diharapkan cukup membayar satu kali meskipun harus berganti bus atau berpindah koridor selama perjalanan.

“Jadi kita inginnya mau ke Binjai, mau ke Deli Serdang maupun ke mana pun, bayarnya sekali saja,” katanya.

Kepala Dinas Perhubungan Sumut Yudha P. Setiawan menjelaskan, saat ini BRT Mebidang masih dalam tahap uji coba menggunakan dua unit bus listrik. Jumlah armada akan ditambah secara bertahap hingga mencapai 30 unit pada 8 Desember 2026.

Sebanyak 13 bus akan melayani Koridor 1 rute Teladan-Terminal Lubukpakam. Sementara itu, 14 bus disiapkan untuk Koridor 2 rute Simpang Barat-Binjai dan tiga unit lainnya menjadi armada cadangan.

Operasional BRT Mebidang menggunakan skema Buy The Service (BTS), yakni pemerintah membayar layanan berdasarkan jarak tempuh dan standar pelayanan minimum. Skema ini diharapkan membuat pengemudi lebih mengutamakan ketepatan waktu, keselamatan, dan kenyamanan penumpang.

Selama masa uji coba, masyarakat dapat menggunakan layanan tersebut secara gratis. Setelah beroperasi penuh, tarif ditetapkan sebesar Rp4.300 untuk penumpang umum dan Rp3.000 bagi kategori khusus, seperti pelajar, penyandang disabilitas, dan lanjut usia.

Untuk memperluas akses masyarakat, sebanyak 121 titik pemberhentian baru juga direncanakan dibangun. Rinciannya, 68 titik pada lintasan Teladan-Terminal Lubukpakam dan 53 titik pada lintasan Simpang Barat-Binjai.

Pemprov Sumut turut menghadirkan aplikasi Trans-Sumut untuk membantu masyarakat mengetahui rute perjalanan, memantau posisi bus secara real-time, serta mendaftar sebagai pengguna tarif khusus.

Direktur Angkutan Jalan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Muiz Thohir, mengatakan BRT Mebidang merupakan salah satu proyek percontohan pengembangan transportasi publik bersama kawasan Bandung Raya.

Ia menilai kemacetan menjadi salah satu alasan pengembangan transportasi massal perlu dipercepat. Berdasarkan data TomTom Traffic Index yang disampaikannya, tingkat kemacetan di Medan mencapai 54,02 persen.

“Pembangunan BRT bukan semata proyek infrastruktur, tetapi investasi jangka panjang bagi kualitas hidup masyarakat, produktivitas ekonomi, serta masa depan perkotaan yang lebih hijau,” ujar Muiz.

Ke depan, pengelolaan BRT Mebidang juga diarahkan menuju pembentukan badan usaha milik daerah (BUMD) bersama yang melibatkan Pemprov Sumut, Pemko Medan, Pemko Binjai, dan Pemkab Deli Serdang.

Bobby berharap kolaborasi antarpemerintah daerah tersebut mampu menjadikan transportasi umum sebagai pilihan utama masyarakat, sekaligus memperkuat konektivitas dan mendukung perkembangan kawasan metropolitan Medan, Binjai, dan Deli Serdang.

Facebook Comments Box
  • Bagikan