OJK Jaga Stabilitas Keuangan, IHSG Rontok 29,14 Persen
Blinkiss.id, JAKARTA
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan stabilitas sektor jasa keuangan nasional masih terjaga di tengah tekanan global dan meningkatnya volatilitas pasar keuangan.
Namun, di saat yang sama, data dalam rilis resmi OJK justru menunjukkan tekanan besar di pasar modal Indonesia sepanjang 2026.
Melalui Siaran Pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) lalu, OJK menyebut stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga meski ekonomi global menghadapi tekanan inflasi, konflik geopolitik, dan ketidakpastian suku bunga global.
“Stabilitas Sektor Jasa Keuangan (SJK) terjaga di tengah peningkatan inflasi global dan volatilitas pasar keuangan,” tulis OJK.
Namun, pada bagian pasar modal, OJK mencatat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam sepanjang tahun berjalan.
“IHSG ditutup pada level 6.127,38 terkoreksi 11,92 persen secara mtm atau 29,14 persen secara ytd,” tulis OJK.
Penurunan hampir 30 persen tersebut terjadi di tengah tingginya ketidakpastian global dan aksi penyesuaian portofolio investor.
Selain IHSG, tekanan juga terlihat dari arus modal asing yang terus keluar dari pasar domestik. Investor asing tercatat membukukan net sell saham sebesar Rp4,10 triliun pada Mei 2026. Secara year to date, investor asing juga melakukan net sell Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp15,43 triliun.
Tekanan di pasar obligasi turut tercermin dari kenaikan yield SBN. OJK mencatat yield SBN rata-rata naik 56,22 basis poin secara year to date akibat meningkatnya persepsi risiko pasar global.
Meski demikian, OJK menilai pasar modal domestik masih memiliki tingkat ketahanan yang memadai dengan likuiditas yang tetap terjaga.
Di sisi lain, OJK juga mengakui meningkatnya ketidakpastian global berdampak terhadap aliran modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Perkembangan tersebut meningkatkan ketidakpastian arah kebijakan moneter global serta volatilitas pasar keuangan, terutama aliran modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia,” tulis OJK.
Tekanan eksternal itu muncul di tengah kondisi rupiah yang terus melemah terhadap dolar AS dalam beberapa waktu terakhir, Sabtu (6/6/2026)
Selain pasar saham, sejumlah indikator lain dalam laporan juga menunjukkan perlambatan dan tekanan di sektor keuangan. Nilai Asset Under Management (AUM) industri pengelolaan investasi tercatat termoderasi 1 persen secara bulanan, sementara Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana turun 1,52 persen pada Mei 2026.
Meski begitu, OJK tetap menegaskan intermediasi sektor keuangan masih tumbuh positif dan solvabilitas industri jasa keuangan berada pada level tinggi. (JBR/66)

