Perkuat Ketahanan Pangan, BI Jaga Stabilitas Harga dan Daya Beli Masyarakat
Blinkiss.id, JAKARTA
Di tengah meningkatnya risiko global maupun tantangan perubahan iklim, ketahanan pangan merupakan salah satu fondasi ekonomi yang stabil, maju dan berdaya saing.
Untuk memperkuat ketahanan pangan nasional, Bank Indonesia mendorong bank untuk meningkatkan penyaluran kredit/pembiayaan pada sektor pertanian, industri pengolahan dan hilirisasi pangan melalui optimalisasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM).
Bank Indonesia juga turut mendorong produktivitas, memperlancar distribusi, dan menjaga stabilitas harga pangan melalui implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS). Demikian disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ricky P. Gozali, saat menyampaikan keynote speech pada seminar bertajuk “Ketahanan Pangan untuk Indonesia Emas” di Jakarta, Rabu (10/6/2026)
Ricky menyampaikan bahwa ketidakpastian global membawa tantangan nyata bagi pasokan pangan nasional, mulai dari volatilitas harga komoditas, pembatasan ekspor, hingga kenaikan biaya logistik dan impor. Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah pun turut mendorong kenaikan harga pangan impor dan sarana produksi pertanian.
Hal ini perlu menjadi perhatian dalam pengendalian inflasi. Penguatan ketahanan pangan tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga stabilitas perekonomian. “Dengan tekanan harga yang tetap terkendali, daya beli masyarakat dapat terlindungi dan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga,” ucap Ricky.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, menegaskan bahwa inovasi dari hulu adalah kunci meredam lonjakan harga pangan.
Menurutnya, komoditas volatile food sangat rentan terhadap perubahan musim dan cuaca. Untuk itu, BRIN telah mengembangkan sejumlah varietas padi unggulan dengan produktivitas di atas 10 ton per hektar yang tahan banjir, kekeringan, dan lahan asin untuk mendukung agenda riset nasional menuju kedaulatan pangan Indonesia Emas 2045.
“Ketersediaan varietas unggul yang tahan cuaca ekstrem diharapkan dapat menstabilkan pasokan komoditas pokok dan mencegah lonjakan harga,” tambah Arif.
Dari sisi pengelolaan pasokan, Ketua Tim Kerja Stabilisasi Pasokan Pangan Badan Pangan Nasional, Yudhi Harsatriadi Sandyatma, menyampaikan bahwa intervensi lapangan terus digencarkan bersinergi erat dengan Bank Indonesia. Sinergi terutama dituangkan dalam koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah.
Hingga awal Juni 2026, Gerakan Pangan Murah telah digelar lebih dari 5.200 kali di 36 provinsi dan telah diperasikan 2.890 Kios Pangan.
Dunia usaha pun siap menjadi mitra aktif, bukan sekadar menunggu kebijakan. “Kadin mendorong penguatan rantai pasok domestik dengan harmonisasi regulasi pusat-daerah yang selama ini dinilai menghambat investasi di sektor pangan. Kami datang membawa solusi, investasi, dan kesiapan untuk bergerak bersama,” papar Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pangan Kadin Indonesia, H. Mulyadi Jayabaya.
Bank Indonesia akan terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah, perbankan, dunia usaha, akademisi, dan lembaga riset dalam menjaga stabilitas harga dan ketahanan pangan nasional.
Langkah ini didukung oleh bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan memastikan inflasi tetap terkendali sesuai sasaran yang ditetapkan Pemerintah sebesar 2,5±1% pada 2026 dan 2027, sebagai fondasi bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045. (JBR/66)

