Oplus_16908288
26 Juni 2026

Blinkiss ID

Berita dan Video Kilat Terkini

BI Optimis Ekonomi Sumut Tumbuh di Atas 5 Persen

Blinkiss.id, MEDAN

Dengan adanya ketidakpastian ekonomi global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah serta gejolak pasar keuangan internasional belum mampu meredupkan optimisme Bank Indonesia (BI) terhadap perekonomian Sumatera Utara (Sumut). BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Sumut pada 2026 akan mampu melampaui angka 5 persen.

Hal itu disampaikan, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara (KPw BI), Ameriza M. Moesa, pada Forum North Sumatera Economic Xceleration Talk (NEXT) Triwulan II Tahun 2026 yang digelar di Medan.

Menurut Ameriza, kinerja ekspor yang terus telah menunjukkan tren positif menjadi modal utama bagi Sumut untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi di tengah tantangan global.

“Jika tahun lalu pertumbuhan ekonomi Sumut berada di kisaran 4,98 persen, maka pada 2026 kami optimistis dapat tumbuh di atas 5 persen,” ucapnya.

Dijelaskan Ameriza, kenaikan harga sejumlah komoditas dunia justru membuka peluang bagi Sumut yang memiliki struktur ekonomi berbasis sumber daya alam. Sektor pertambangan, minyak dan gas, serta komoditas pertanian diproyeksikan menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah.

Jadi Penggerak Utama atas
perlambatan konsumsi rumah tangga akibat tekanan harga yang membuat masyarakat lebih berhati-hati berbelanja, peningkatan ekspor diyakini mampu menjadi penyangga ekonomi.

“Perlambatan konsumsi masih dapat diimbangi dengan peningkatan ekspor komoditas pertambangan dan hasil pertanian,” kata Ameriza.

Ekspor Jadi Andalan

Bank Indonesia menilai ekspor bersih (net export) akan menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi paling penting sepanjang tahun ini. Tingginya permintaan dan harga komoditas global dinilai memberikan keuntungan bagi daerah penghasil komoditas seperti Sumatera Utara.

Meski demikian, BI tetap mewaspadai berbagai risiko eksternal yang berpotensi menekan stabilitas ekonomi nasional maupun daerah. Konflik geopolitik, fluktuasi harga energi, hingga gejolak pasar keuangan internasional dinilai dapat memengaruhi nilai tukar rupiah dan laju inflasi, Jumat (26/6/2026)

Sebagai langkah antisipasi, BI telah menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) menjadi 5,75 persen guna menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan inflasi agar tetap berada dalam sasaran 2,5 persen ±1 persen pada 2026–2027.

Namun, menurut Ameriza, fokus BI tidak hanya menjaga stabilitas. Bank sentral juga terus mendorong pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan makroprudensial yang mendukung penyaluran kredit ke sektor produktif.

Selain itu, digitalisasi sistem pembayaran terus diperluas untuk mempermudah aktivitas ekonomi masyarakat dan mendukung perkembangan UMKM.

Inflasi Diprediksi Kembali Terkendali

Dari sisi harga, BI memperkirakan inflasi Sumut pada akhir 2026 akan kembali masuk dalam rentang target setelah sempat menembus masyarakat dan mendukung perkembangan UMKM.

Inflasi Diprediksi Kembali Terkendali

Dari sisi harga, BI memperkirakan inflasi Sumut pada akhir 2026 akan kembali masuk dalam rentang target setelah sempat menembus level di atas 4 persen pada tahun sebelumnya.

Perbaikan kondisi cuaca serta berkurangnya gangguan distribusi akibat bencana menjadi faktor yang diyakini mampu menjaga stabilitas pasokan pangan dan menekan laju inflasi.

Ameriza juga mendorong seluruh pihak untuk memperkuat peran Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) agar inflasi tetap terkendali dan tidak melampaui batas atas target sebesar 3,5 persen.

Sumut Dinilai Tetap Tangguh

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menilai kondisi ekonomi daerah masih cukup tangguh meski menghadapi tekanan global yang semakin kompleks.

Mewakili Gubernur Sumut, Bobby Afif Nasution, Kepala Biro Perekonomian Setdaprov Sumut, Poppy Marulita Hutagalung, menyebut perekonomian dunia saat ini masih dibayangi perlambatan pertumbuhan, ketegangan geopolitik, volatilitas pasar keuangan, serta ancaman perubahan iklim.

Menurutnya, berbagai faktor tersebut berpotensi memengaruhi sektor pangan, energi, perdagangan, investasi hingga penyerapan tenaga kerja.

Meski demikian, Sumut berhasil menunjukkan ketahanan ekonomi yang cukup kuat. Pertumbuhan ekonomi daerah tercatat mencapai 4,98 persen, hampir menyentuh level 5 persen.

“Di tengah ketidakpastian global, ekonomi Sumatera Utara tetap tumbuh. Ini menunjukkan fondasi ekonomi daerah yang cukup kuat untuk terus bergerak dan berkembang,” ungkap Poppy.

Kinerja ekspor Sumut juga mencatat lonjakan signifikan sebesar 42,29 persen. Sementara itu, penyaluran kredit kepada pelaku UMKM mencapai Rp5,522 triliun yang telah dinikmati sekitar 82 ribu debitur.

Untuk menjaga momentum pertumbuhan, Pemprov Sumut terus memperkuat berbagai program strategis, mulai dari pengendalian inflasi, perluasan akses keuangan, digitalisasi UMKM, pengembangan petani unggulan hingga peningkatan literasi investasi masyarakat.

Melalui sinergi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, OJK, BPS, perbankan dan dunia usaha, Sumut diyakini mampu menghadapi tantangan global sekaligus menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

“Forum NEXT menjadi wadah strategis untuk memperkuat koordinasi dan kolaborasi dalam menjaga stabilitas ekonomi dan sistem keuangan daerah serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. (JBR/66)

Facebook Comments Box
Translate »