MEDAN, BLINKISS – Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Bobby Afif Nasution mendorong transformasi sektor olahraga menjadi industri yang mandiri, profesional, dan berdaya saing. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan prestasi atlet sekaligus membuka peluang pendapatan daerah melalui pengelolaan fasilitas olahraga secara optimal.
Upaya tersebut dibahas Bobby Nasution dalam rapat bersama Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Provinsi Sumut Sulaiman Harahap dan sejumlah pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) Pemprov Sumut di Ruang Rapat Lantai 10 Kantor Gubernur Sumut, Jalan Diponegoro Nomor 30, Medan, Selasa (11/8/2026).
Bobby mengatakan, olahraga memiliki potensi besar untuk dikembangkan karena diminati berbagai kalangan masyarakat. Selain membutuhkan fasilitas yang memadai, pengembangan olahraga juga memerlukan sistem pengelolaan yang mampu menghasilkan pendapatan untuk mendukung keberlanjutan pembinaan atlet.
Menurutnya, pemerintah provinsi harus menjadi pelopor dalam membangun ekosistem olahraga yang profesional dan berorientasi pada keberlanjutan.
“Banyak orang yang mau melihat (menonton), dan banyak juga yang mau bermain, terutama seluruh atlet. Tetapi bagaimana agar banyak juga yang berkontribusi memajukan olahraga. Caranya adalah, bagaimana bidang ini bisa menghasilkan pemasukan. Tentu dengan bertransformasi ke industri. Dan ini harus kita mulai dari diri sendiri, pemerintah provinsi,” ujar Bobby.
Ia menjelaskan, Sumut memiliki sejumlah fasilitas olahraga yang memadai setelah menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) 2024. Di antaranya Stadion Utama, Stadion Madya, serta berbagai sarana olahraga di kawasan Pusat Olahraga Desa Sena, Kabupaten Deli Serdang.
Selain itu, terdapat sejumlah gedung olahraga di kawasan Kantor Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sumut, Jalan William Iskandar, Medan, serta fasilitas olahraga lainnya.
Bobby menegaskan, keberadaan fasilitas tersebut harus diimbangi dengan pengelolaan yang maksimal, terutama dalam hal pemeliharaan, pemanfaatan aset, dan penyelenggaraan berbagai kegiatan olahraga.
Ia juga meminta agar pengembangan olahraga tidak hanya berorientasi pada kegiatan tertentu, tetapi dirancang melalui grand design atau rencana besar yang berkelanjutan.
Dengan perencanaan tersebut, kegiatan olahraga diharapkan dapat berlangsung secara rutin, mulai dari aktivitas harian hingga penyelenggaraan pertandingan dan turnamen berkala yang melibatkan masyarakat luas.
“Antara target pengelolaan untuk mendapatkan pemasukan, peningkatan kualitas atlet hingga menjadikan olahraga diminati masyarakat, harus berjalan bersama. Karenanya kita ingin rencana besar ini, persiapannya benar-benar matang, terutama saat pencanangan pertama grand design nantinya,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dispora Sumut Mahfullah P Daulay menjelaskan, salah satu langkah yang disiapkan adalah mengelola kawasan pusat olahraga melalui Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) dalam bentuk Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).
Skema tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas manajemen pengelolaan fasilitas, mengoptimalkan pemanfaatan aset, serta memberikan keleluasaan dalam mengelola pendapatan secara mandiri sesuai ketentuan yang berlaku.
Pengelolaan melalui BLUD juga membuka peluang pengembangan inovasi layanan, termasuk digitalisasi dan model bisnis yang tetap berorientasi pada pelayanan publik.
Mahfullah menambahkan, pendapatan yang diperoleh dari pengelolaan kawasan pusat olahraga nantinya dapat dialokasikan untuk mendukung bantuan hibah di bidang kepemudaan dan keolahragaan, termasuk pembinaan atlet serta pengembangan komunitas olahraga.
Dengan demikian, transformasi olahraga menjadi industri di Sumut diharapkan tidak hanya meningkatkan pendapatan daerah, tetapi juga memperkuat pembinaan atlet, memperluas partisipasi masyarakat, dan mendorong peningkatan prestasi olahraga di tingkat nasional maupun internasional.
Pemprov Sumut pun mendorong kolaborasi seluruh pihak terkait agar pengelolaan fasilitas olahraga dapat berjalan optimal dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.












