Bobby Nasution Dorong Perempuan Seimbangkan Peran di Rumah Tangga dan Ruang Publik
BLINKISS, Medan – Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution menekankan pentingnya keselarasan peran perempuan, baik di lingkungan rumah tangga maupun di ruang publik. Menurutnya, diperlukan jembatan yang mampu menghubungkan kedua peran tersebut agar dapat dijalankan secara seimbang.
Hal itu disampaikan Bobby Nasution saat membuka seminar bertajuk “Saatnya Perempuan Bicara” dalam rangka peringatan Hari Kartini yang diselenggarakan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (PPPAKB) Provinsi Sumatera Utara di Aula Raja Inal Siregar, Kantor Gubernur Sumut, Jalan Diponegoro Nomor 30 Medan, Jumat (24/4/2026).
Kegiatan tersebut turut dihadiri Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Arifatul Choiri Fauzi, Staf Ahli I TP PKK Sumut Titiek Sugiharti, Anggota Komisi VIII DPR RI Muhammad Husni, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumut Rudy Brando Hutabarat, pimpinan organisasi perangkat daerah, serta komunitas perempuan.
Dalam sambutannya, Bobby menyampaikan apresiasi atas kehadiran Menteri PPPA yang sebelumnya juga meninjau lokasi pengungsian korban bencana hidrometeorologi di Sumatera Utara.
“Selamat datang dan membersamai kegiatan kami di Sumut dalam memperingati Hari Kartini. Kami tidak menyangka ternyata respons Ibu Menteri sangat luar biasa kepada kami,” ujar Bobby.
Bobby juga menyoroti masih rendahnya keterlibatan perempuan dalam jabatan publik, terutama pada posisi strategis pengambilan keputusan. Menurutnya, masih terdapat kabupaten dan kota di Sumatera Utara yang belum memiliki keterwakilan perempuan di lembaga legislatif.
“Seperti di lembaga legislatif, masih ada kabupaten/kota yang bahkan tidak ada anggota dewannya perempuan. Walaupun di DPRD Sumut itu Ketuanya adalah perempuan, tetapi komposisinya secara umum masih kecil,” katanya.
Ia menyebut saat ini hanya Kabupaten Labuhanbatu yang dipimpin kepala daerah perempuan, meskipun di beberapa daerah terdapat wakil kepala daerah perempuan. Karena itu, seminar dan kegiatan serupa diharapkan mampu meningkatkan partisipasi perempuan dalam berbagai sektor kehidupan.
Bobby mengungkapkan, jumlah penduduk Sumatera Utara mencapai 15,7 juta jiwa dengan jumlah perempuan sekitar 7,8 juta jiwa atau 49 persen dari total populasi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 5,8 juta perempuan berada pada usia produktif.
“Jumlah penduduk Sumatera Utara ada 15,7 juta jiwa, dengan jumlah perempuan sebanyak 7,8 juta jiwa atau 49%. Dari jumlah itu, 5,8 juta berada dalam usia produktif. Ini yang akan menjadi penerus kepemimpinan di Sumut,” sebutnya.
Menurut Bobby, perempuan tidak perlu ragu untuk mengambil peran di ruang publik tanpa meninggalkan tanggung jawab dalam keluarga.
“Makanya saya menekankan agar keterlibatan perempuan di ruang publik dan rumah tangga masih banyak yang belum selaras, dan seakan ada pembatas antara kedua peran tersebut. Ini yang perlu kita pecahkan, dan tidak perlu takut. Sehingga seorang perempuan bisa menjadi ibu rumah tangga, sekaligus beraktivitas di ruang publik,” tambahnya.
Sementara itu, Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2025 tercatat 35.131 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Indonesia, dengan jumlah korban mencapai 37.372 orang. Dari total tersebut, lebih dari 30 ribu korban merupakan perempuan.
“Angka ini naik cukup signifikan, tetapi ini sebagai pertanda bahwa sosialisasi kita kepada perempuan untuk berani bicara ketika mengalami kekerasan mulai membuahkan hasil. Namun, ini tidak bisa dianggap enteng,” kata Arifah.
Ia menegaskan peningkatan jumlah laporan harus menjadi perhatian bersama untuk memperkuat langkah pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Menurutnya, forum seminar seperti yang digelar di Sumatera Utara menjadi salah satu sarana penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus memperkuat upaya pencegahan di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
(Agung)
