6 Februari 2026

Blinkiss ID

Berita dan Video Kilat Terkini

Periode Maret – September 2025, Penduduk Miskin Berkurang Sebanyak 12,2 Ribu Jiwa

Blinkiss.id, MEDAN

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara (Sumut), Asim Saputra, menjelaskan bahwa sepanjang Maret 2025–September 2025, jumlah penduduk miskin berkurang 12,2 ribu jiwa, atau turun 0,12 persen poin.

Namun jika dibandingkan September 2024, jumlah penduduk miskin justru bertambah 17,14 ribu jiwa, atau naik 0,05 persen poin.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumut telah mencatat jumlah penduduk miskin pada September 2025 sebanyak 1.128,06 ribu jiwa, atau setara 7,24 persen dari total penduduk

Angka tersebut menunjukkan penurunan dibandingkan Maret 2025, meskipun masih sedikit lebih tinggi jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Pada periode Maret 2025–September 2025, jumlah penduduk miskin berkurang 12,2 ribu jiwa, atau turun 0,12 persen poin. Namun jika dibandingkan September 2024, jumlah penduduk miskin justru bertambah 17,14 ribu jiwa, atau naik 0,05 persen poin” ucapnya.

Penurunan secara semesteran yang menunjukkan perbaikan kondisi sosial ekonomi masyarakat, meskipun tekanan harga masih cukup memengaruhi daya beli,” papar Asim Saputra.

Berdasarkan wilayah tempat tinggal, pada periode Maret–September 2025 jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan meningkat 12,2 ribu jiwa, sementara di perdesaan berkurang 24,4 ribu jiwa. Secara persentase, tingkat kemiskinan di perkotaan naik 0,06 persen poin, perdesaan turun 0,36 persen poin.

Jika dibandingkan September 2024, penduduk miskin perkotaan bertambah 25 ribu jiwa atau meningkat 0,15 persen poin, perdesaan berkurang 7,8 ribu jiwa atau turun 0,09 persen poin.

Di tambahan Asim lagi, garis kemiskinan Sumatera Utara pada September 2025 tercatat sebesar Rp718.220 per kapita per bulan, meningkat 7,75 persen dibandingkan Maret 2025 dan 10,78 persen dibandingkan September 2024. Wilayah perkotaan, garis kemiskinan mencapai Rp755.041, sedangkan di perdesaan sebesar Rp671.746 per kapita per bulan.

“Kenaikan garis kemiskinan ini sangat dipengaruhi oleh meningkatnya harga sejumlah komoditas kebutuhan pokok,” imbuhnya.

Berdasarkan komponen penyusunnya, Garis Kemiskinan Makanan (GKM) masih mendominasi dengan kontribusi 76,73 persen terhadap total garis kemiskinan. Beras menjadi komoditas penyumbang terbesar, baik di perkotaan (22,36 persen) maupun perdesaan (31,79 persen). Komoditas lain yang berkontribusi besar antara lain rokok kretek filter, telur ayam ras, cabai merah, serta ikan tongkol/tuna/cakalang.

Untuk komoditas bukan makanan, biaya perumahan masih menjadi penyumbang terbesar garis kemiskinan, baik di perkotaan maupun perdesaan. Diikuti oleh pengeluaran untuk bensin, listrik, biaya pendidikan, dan perlengkapan mandi.

Sementara itu, garis kemiskinan per rumah tangga miskin pada September 2025 tercatat sebesar Rp3.706.015 per bulan, meningkat 3,73 persen dibandingkan Maret 2025 dan 4,50 persen dibandingkan September 2024.

Dari sisi kualitas kemiskinan, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) pada September 2025 tercatat 0,899, menurun dibandingkan Maret 2025 maupun September 2024. Sedangkan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) tercatat 0,186, juga mengalami penurunan baik secara semesteran maupun tahunan.

“Penurunan indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin semakin mendekati garis kemiskinan, serta ketimpangan pengeluaran antarpenduduk miskin semakin berkurang,” sebutnya.

BPS mencatat beberapa faktor yang diduga memengaruhi dinamika kemiskinan di Sumatera Utara pada periode Maret–September 2025, antara lain pertumbuhan ekonomi antara lain pertumbuhan ekonomi triwulan III 2025 yang masih tumbuh 4,55 persen, perlambatan pertumbuhan konsumsi rumah tangga, peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) menjadi 146,06, serta inflasi September 2025 sebesar 5,32 persen, dengan inflasi bahan makanan mencapai 11,38 persen. (JBR/66)

Facebook Comments Box
Translate »