Rumah Singgah YBM PLN Ringankan Langkah Safrida Jalani Pengobatan
Rumah Singgah YBM PLN Ringankan Langkah Safrida Jalani Pengobatan
Blinkiss.id, MEDAN
Menjalani pengobatan jauh dari tempat tinggal bukan perkara mudah bagi Safrida, 48 tahun, warga Pangkalan Brandan, Kecamatan Babalan, Kabupaten Langkat.
Di tengah keterbatasan ekonomi keluarga, ia harus menjalani rangkaian pengobatan akibat keloid pascaluka bakar yang tumbuh dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Kondisi tersebut bahkan berdampak pada saraf kaki sehingga membuat Safrida kesulitan duduk.
Ia pun harus menjalani pengobatan dan operasi secara bertahap di RSUP H. Adam Malik Medan.
Bagi Safrida juga keluarga, proses pengobatan tidak hanya menguji ketahanan fisik, tetapi termasuk kemampuan ekonomi.
Suaminya yang bekerja serabutan dengan penghasilan tidak tetap.
Sementara itu, jarak dari Pangkalan Brandan menuju Medan membuat keluarga harus memikirkan biaya transportasi, tempat tinggal sementara, makan, serta kebutuhan selama masa perawatan.
Di tengah beratnya perjuangan tersebut, Safrida merasa sangat terbantu dengan kehadiran Rumah Singgah YBM PLN yang berada di Jalan Bunga Lau Dalam, Medan Tuntungan, tidak jauh dari RSUP H. Adam Malik Medan, Rabu (6/5/2026).
Rumah singgah ini menjadi tempat tinggal sementara bagi pasien serta keluarga pendamping yang menjalani pengobatan di rumah sakit rujukan di Kota Medan, terutama bagi masyarakat dengan keterbatasan biaya.
Informasi mengenai rumah singgah tersebut diperoleh Safrida dari sesama pasien. Setelah menjalani operasi pertama pada Januari 2026, Safrida mulai tinggal di Rumah Singgah YBM PLN pada 15 Januari 2026 bersama anaknya.
Sejak saat itu, rumah singgah menjadi tempatnya beristirahat, memulihkan diri, dan mengumpulkan kekuatan untuk kembali menjalani pengobatan.
Sejak Januari hingga April 2026, Safrida telah menjalani tiga kali operasi. Selama empat bulan proses pengobatan tersebut, Rumah Singgah YBM PLN membantu meringankan beban biaya yang selama ini menjadi kekhawatiran besar keluarganya.
“Alhamdulillah sekali, Pak. Dengan adanya rumah singgah ini, kami sangat terbantu. Kami tidak perlu lagi memikirkan biaya kos, makan, dan biaya pulang-pergi dari rumah di Brandan ke rumah sakit. Kami sangat berterima kasih kepada YBM PLN dan seluruh pengelola,” ucap Safrida penuh rasa syukur.
Bagi Safrida, Rumah Singgah YBM PLN bukan sekadar tempat tinggal sementara. Di tempat itu, ia merasa lebih tenang menjalani proses penyembuhan.
Ia tidak lagi terlalu dibebani biaya akomodasi selama berobat di Medan, sehingga dapat lebih fokus menjalani perawatan dan memulihkan kondisi tubuhnya.
Saat ini, Rumah Singgah YBM PLN memiliki kapasitas menampung 14 pasien. Seluruh kapasitas tersebut telah terisi oleh pasien yang berasal dari berbagai daerah, antara lain Langkat, Labuhanbatu, Simalungun, Asahan, Padang Lawas Utara, hingga Aceh.
Rumah singgah ini diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu yang sedang menjalani pengobatan di Medan.
General Manager PLN Unit Induk Distribusi Sumatera Utara, Mundhakir, menyampaikan bahwa keberadaan Rumah Singgah YBM PLN merupakan wujud nyata kepedulian insan PLN kepada masyarakat, terutama mereka yang sedang berjuang mendapatkan layanan kesehatan.
“PLN tidak hanya ingin hadir menerangi rumah-rumah masyarakat melalui listrik, tetapi juga menghadirkan terang dalam bentuk kepedulian. Melalui YBM PLN, zakat, infak, dan sedekah pegawai dikelola menjadi program yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Rumah singgah ini menjadi bukti bahwa energi kebaikan, ketika dikelola bersama, dapat meringankan beban saudara-saudara kita yang sedang berjuang untuk sembuh,” tutur Mundhakir.
Mundhakir menambahkan, keberadaan Rumah Singgah YBM PLN sejalan dengan semangat keberlanjutan yang terus didorong PLN. Menurutnya, keberlanjutan tidak hanya berbicara mengenai transisi energi, energi bersih, dan pelestarian lingkungan, tetapi juga tentang bagaimana perusahaan hadir memberikan dampak sosial yang nyata bagi masyarakat.
“Keberlanjutan harus menyentuh kehidupan manusia. Di tengah upaya PLN mendukung transisi energi dan masa depan yang lebih hijau, kami juga ingin memastikan nilai-nilai kemanusiaan tetap menjadi bagian penting dari perjalanan perusahaan. Melalui program seperti Rumah Singgah YBM PLN, kami berharap masyarakat merasakan bahwa PLN hadir bukan hanya sebagai penyedia listrik, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan sosial yang ikut menguatkan dan memberi harapan,” tambahnya.
Kehadiran Rumah Singgah YBM PLN menjadi salah satu bentuk nyata gotong royong insan PLN dalam membantu masyarakat kurang mampu. Bagi pasien seperti Safrida, bantuan tersebut tidak hanya mengurangi beban biaya, tetapi juga menghadirkan ketenangan agar ia dapat lebih fokus menjalani pengobatan.
Di Rumah Singgah YBM PLN, Safrida menemukan tempat yang membuat perjuangannya terasa lebih ringan.
Selama berjuang untuk sembuh, ia tidak hanya mendapatkan tempat beristirahat, tetapi juga merasakan kepedulian yang membuatnya semakin kuat menjalani hari-hari pemulihan. (JBR/66)
Blinkiss.id, MEDAN
Menjalani pengobatan jauh dari tempat tinggal bukan perkara mudah bagi Safrida, 48 tahun, warga Pangkalan Brandan, Kecamatan Babalan, Kabupaten Langkat.
Di tengah keterbatasan ekonomi keluarga, ia harus menjalani rangkaian pengobatan akibat keloid pascaluka bakar yang tumbuh dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Kondisi tersebut bahkan berdampak pada saraf kaki sehingga membuat Safrida kesulitan duduk.
Ia pun harus menjalani pengobatan dan operasi secara bertahap di RSUP H. Adam Malik Medan.
Bagi Safrida juga keluarga, proses pengobatan tidak hanya menguji ketahanan fisik, tetapi termasuk kemampuan ekonomi.
Suaminya yang bekerja serabutan dengan penghasilan tidak tetap.
Sementara itu, jarak dari Pangkalan Brandan menuju Medan membuat keluarga harus memikirkan biaya transportasi, tempat tinggal sementara, makan, serta kebutuhan selama masa perawatan.
Di tengah beratnya perjuangan tersebut, Safrida merasa sangat terbantu dengan kehadiran Rumah Singgah YBM PLN yang berada di Jalan Bunga Lau Dalam, Medan Tuntungan, tidak jauh dari RSUP H. Adam Malik Medan, Rabu (6/5/2026).
Rumah singgah ini menjadi tempat tinggal sementara bagi pasien serta keluarga pendamping yang menjalani pengobatan di rumah sakit rujukan di Kota Medan, terutama bagi masyarakat dengan keterbatasan biaya.
Informasi mengenai rumah singgah tersebut diperoleh Safrida dari sesama pasien. Setelah menjalani operasi pertama pada Januari 2026, Safrida mulai tinggal di Rumah Singgah YBM PLN pada 15 Januari 2026 bersama anaknya.
Sejak saat itu, rumah singgah menjadi tempatnya beristirahat, memulihkan diri, dan mengumpulkan kekuatan untuk kembali menjalani pengobatan.
Sejak Januari hingga April 2026, Safrida telah menjalani tiga kali operasi. Selama empat bulan proses pengobatan tersebut, Rumah Singgah YBM PLN membantu meringankan beban biaya yang selama ini menjadi kekhawatiran besar keluarganya.
“Alhamdulillah sekali, Pak. Dengan adanya rumah singgah ini, kami sangat terbantu. Kami tidak perlu lagi memikirkan biaya kos, makan, dan biaya pulang-pergi dari rumah di Brandan ke rumah sakit. Kami sangat berterima kasih kepada YBM PLN dan seluruh pengelola,” ucap Safrida penuh rasa syukur.
Bagi Safrida, Rumah Singgah YBM PLN bukan sekadar tempat tinggal sementara. Di tempat itu, ia merasa lebih tenang menjalani proses penyembuhan.
Ia tidak lagi terlalu dibebani biaya akomodasi selama berobat di Medan, sehingga dapat lebih fokus menjalani perawatan dan memulihkan kondisi tubuhnya.
Saat ini, Rumah Singgah YBM PLN memiliki kapasitas menampung 14 pasien. Seluruh kapasitas tersebut telah terisi oleh pasien yang berasal dari berbagai daerah, antara lain Langkat, Labuhanbatu, Simalungun, Asahan, Padang Lawas Utara, hingga Aceh.
Rumah singgah ini diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu yang sedang menjalani pengobatan di Medan.
General Manager PLN Unit Induk Distribusi Sumatera Utara, Mundhakir, menyampaikan bahwa keberadaan Rumah Singgah YBM PLN merupakan wujud nyata kepedulian insan PLN kepada masyarakat, terutama mereka yang sedang berjuang mendapatkan layanan kesehatan.
“PLN tidak hanya ingin hadir menerangi rumah-rumah masyarakat melalui listrik, tetapi juga menghadirkan terang dalam bentuk kepedulian. Melalui YBM PLN, zakat, infak, dan sedekah pegawai dikelola menjadi program yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Rumah singgah ini menjadi bukti bahwa energi kebaikan, ketika dikelola bersama, dapat meringankan beban saudara-saudara kita yang sedang berjuang untuk sembuh,” tutur Mundhakir.
Mundhakir menambahkan, keberadaan Rumah Singgah YBM PLN sejalan dengan semangat keberlanjutan yang terus didorong PLN. Menurutnya, keberlanjutan tidak hanya berbicara mengenai transisi energi, energi bersih, dan pelestarian lingkungan, tetapi juga tentang bagaimana perusahaan hadir memberikan dampak sosial yang nyata bagi masyarakat.
“Keberlanjutan harus menyentuh kehidupan manusia. Di tengah upaya PLN mendukung transisi energi dan masa depan yang lebih hijau, kami juga ingin memastikan nilai-nilai kemanusiaan tetap menjadi bagian penting dari perjalanan perusahaan. Melalui program seperti Rumah Singgah YBM PLN, kami berharap masyarakat merasakan bahwa PLN hadir bukan hanya sebagai penyedia listrik, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan sosial yang ikut menguatkan dan memberi harapan,” tambahnya.
Kehadiran Rumah Singgah YBM PLN menjadi salah satu bentuk nyata gotong royong insan PLN dalam membantu masyarakat kurang mampu. Bagi pasien seperti Safrida, bantuan tersebut tidak hanya mengurangi beban biaya, tetapi juga menghadirkan ketenangan agar ia dapat lebih fokus menjalani pengobatan.
Di Rumah Singgah YBM PLN, Safrida menemukan tempat yang membuat perjuangannya terasa lebih ringan.
Selama berjuang untuk sembuh, ia tidak hanya mendapatkan tempat beristirahat, tetapi juga merasakan kepedulian yang membuatnya semakin kuat menjalani hari-hari pemulihan. (JBR/66)
